AL FITRAH - Toko Herba dan Bekam

Blog Entryfight club, kepenulisan bahanMar 19, '08 11:31 AM
for everyone

Fakta atau Fiksi?

Iseng-iseng berkunjung ke situsnya Chuck Palahniuk, penulis ‘Fight Club’ dan cerpen ‘Guts’ yang pernah saya sertakan link-nya di bawah. Yang saya temukan adalah sebuah link ke sebuah berita tentang kejadian mirip dengan cerpen ‘Guts’ itu.

Menurut berita itu, saluran perputaran keluar masuknya air di kolam renang atau drain menarik usus seorang anak perempuan berusia 6 tahun. Karena kecelakaan ini, si gadis cilik, Abigail, harus makan lewat selang infus seumur hidupnya.

Yang mengerikan dari berita ini adalah, drain yang ada di kolam-kolam renang mempunyai kekuatan daya tarik 150 kg per inchi persegi. Persis seperti yang disebutkan Palahniuk di cerpennya. Tapi, buatku, ini yang paling mengerikan, berita itu mengutip data:

Since 1990, 170 people, mostly children, have been caught in drains and 27 of them have died. Legislation is pending that would require pools and hot tubs to have multiple drains to ease the suction.

*Batuk-batuk*

170 orang mengalami kejadian seperti itu?

Karena ini Amerika, saya membayangkan ada perkumpulan dukungan (support groups) untuk orang-orang yang mengalami ‘kecelakaan’ seperti ini. Mungkin Palahniuk pernah mendatangi salah satunya ya? Lalu dari situ mengembangkan ide tentang penyebab terjadinya kecelakaan dan terciptalah “Guts”.

*Bergidik*

p.s: Buat yang masih belum puas dengan situs-situs cerpen yang sudah dibahas di blog ini, nih, saya baru menemukan Online Literature. Nggak terus-terusan tentang cerpen sih, tapi koleksi O Henry-nya lumayan banyak.

=

Not so long ago, one of my bestfriend said: "...Constantine (Frank Lawrence) tuh film yang perfek banget! Ngga ada cacat-nya sama sekali...". Quite shocking am I? Yup I agree kalo Constantine emang film yang entertaining. Tapi ketika kita memberikan suatu komentar apresiasi, doesn't it bit too naive to said so...Constantine adalah film dengan banyak cacat menurut gue. Especially karakter utama-nya, John Constantine, yang amat sangat terribly miscast by Keanu Reeves. I'm a comic book fans, jadi ekpektasi gue adalah John Constantine as tough as John McClane di trilogi Die Hard, atau Tyler Durden-nya Fight Club (David Fincher). They're really bad as mothe'fucker...kata orang sono. Sementara cast Keanu sangat "kalem" dan kata temen gue cool-nya sok sok Matrix gitu...maksutnya mungkin cool yang cuek tapi ngga bandel. Indeed gue setuju kalo blunder terbesar dari film Constantine adalah jatuhnya cast John Constantine ke tangan Keanu. Selain itu ada juga beberapa screenplay yang monoton (seperti misalnya adegan zombie-like) khas horror Hollywood beserta music score-nya. Pfuih, to me it's a far from perfect movie!

But, soal selera emang berbeda-beda. I agree. Constantine bisa dibilang menarik karena memang konflik dan dasar ceritanya udah menarik. You know what? The worst film I've ever seen...Batman and Robin (Joel Schumacher)...itu masih enak juga ditonton karena emang dasarnya menarik. Tapi sebagai movie fans yang mencermati banyak hal dari film, Batman and Robin adalah scumbag yang even ngga layak ada di antara Batman dan Batman Returns-nya Tim Burton sebagai prekuel. Bahkan masih jauh mendingan Batman Forever-nya Joel Schumacher sebelumnya. However, daya tariknya emang ada di: "...it's Batman.."-nya. Like or dislike, sang Ksatria Kegelapan bakal narik box office. Troy juga quit pro quo. Secara film menurut gue adalah film yang sangat jelek (despite for the set). Tapi karena temanya udah menarik, jadi whatever it might come tetep aja jadi film yang menarik untuk ditonton, tapi tidak untuk dimasukkan sebagai film yang bagus.

Film yang bagus bagi gue adalah film yang memiliki handicap untuk mewujudkan sebuah cerita yang mungkin biasa saja menjadi sesuatu yang menarik. In the Name of the Father (Jim Sheridan), Shawshank Redemption (Frank Darabont), The Godfather (Francis Ford Coppola), Lost in Translation (Sofia Coppola), Cidade de Deus (Alejandro Meirelles), Dead Man Walking (Tim Robbins) atau Mystic River (Clint Eastwood). Itu hanya beberapa contoh saja film yang menurut pendapat gue adalah film berkelas! Tema yang mereka ambil bukan tema yang populis. Not everyone like for being an Irish, lifer or death prison, atau bahkan orang yang berpikir dirinya "just being in a wrong place and at the wrong time". Tapi secara visual film-film tersebut mampu memberikan gambaran how does it feel to be like that, melalui permainan akting, sinematografi, alur dan penceritaan yang solid. Itu adalah film yang ngga semua orang bakal mampu ngerjain-nya. Cidade de Deus lebih dahsyat lagi, karena tema yang diangkat was EXTREMELY UNPOPULIST. Itu adalah film semi dokumenter tentang kekerasan di lingkungan kumuh sudut kota Rio de Janeiro. Masalahnya adalah sang sutradara, Meirelles, bisa membuat suatu visualisasi dahsyat gabungan antara sinematografi dan twisted plot untuk membuat penceritaan-nya ngga serboring kita dengerin Wardah Hafidz orasi. That's what I called brilliant.

Film Fight Club (Fincher) adalah film yang bagus (even menurut IMDB dan user comment-nya). Ceritanya memang sudah menarik, tetapi versi naskah-nya yang ditulis Chuck Palahniuk adalah naskah yang sarat atas filosofi-filosofi post-strukturalis yang berat dan "not visual friendly". Hebatnya, Fincher berhasail menyampaikan (at least menurut gue) tema "berat" tersebut nge-blur dalam satu jalinan cerita yang solid dan sinematografi yang mantap. Adegan memorable seperti ketika perabot Ikea dari si Narator (Edward Norton) muncul adalah refleksi dari kehebatan sinematografi untuk menyampaian pesan "consumers life" yang menjadi objek kritik film. Atau Pulp Fiction (Quentin Tarantino) yang selalu menjadikan setiap adegan sebagai media mengeluarkan statement si sutradara (dan pembuat naskah - Tarantino himself) dalam bentuk dialog-dialog yang ekstra panjang. Who cares about McD and Burger King in France anyway?! Tapi dengan cast yang pas (John Travolta dan Samuel L. Jackson) adegan itu jadi memorable dan menjadi fitur film yang sangat berkesan. That what I considered as a challenge.

Peter Jackson menyadari bahwa he's dealin with fire ketika menangani trilogi epik saga Lord of the Rings. Indeed, he need a bloody research mulai dari awal dekade 90-an untuk mewujudkan film hampir 10 tahun kemudian! It's a heavyweight composure dan terbayar dengan visualisasi brilian yang memberikan gambaran terpatri tentang Middle Earth Creature-nya Tolkien. Sama yang dilakukan Ridley Scott dalam Blade Runner tentang visi masa depan. They deal with a good script but they didn't ever think to spoil it. Dance With Wolves (Kevin Costner) juga membutuhkan riset untuk hadir dengan Siouxense speech-nya, just like the Elven language on Jackson's trilogy. It's not as easy untuk membuat satu film yang bagus meski kita sudah mempunyai bekal cerita yang bagus. Take a look at the Alamo, Alexander atau Hulk. Siapa yang mendebat bahwa saga benteng di Texas, ksatria penakluk dunia dan ikon komik Marvel itu adalah cerita yang bagus? But they didn't manage to visualize it well!

Anyway, I'm enjoying Constantine...dan relatif ketika dibilang itu adalah film yang bagus. I agree! It's a good adaptation from comic book to movie. Dan indeed selera orang memang berbeda. Tapi ketika dibilang Constantine it's a perfect movie? Well, gue cuman takut film-film grand kaya yang banyak gue sebut di atas ngga ada lagi. Film yang butuh pengorbanan ekstra untuk mewujudkannya dan disukai banyak orang. Film yang dibuat for the sake of art dan duit bukan segalanya. Gue sangat yakin bayaran dan keuntungan trilogi Lord of the Rings ngga bisa nge-cover semua proses mulai dari riset di awal 90-an sampai video release-nya. Tapi at least Peter Jackson udah bisa senyum lega karena dia menghasilkan mastrepiece yang bakal jadi ikon film di awal milenia. Seperti halnya George Lucas dengan Star Wars-nya. I'm pretty sure it will!

=

gue orang baru nich, tapi seneng banget ada juga movie freaks kaya gue disini...
sebelomnya buat Rada gue butuh banget referensi film film "unik" yang udah lu tonton sama dimana dapetinnya...
kalo crash sama Perdita Duranggo gue udah nonton, asik juga...
film terakhir yang impress gue Fight Club nya Bradd Pitt, tapi sebenernya yang brilian itu si Edward Nortonnya, ada yang pernah nonton film yang judulnya American History X,
nah disitu Edward Norton beneran keren!

=

Dark Comedy tentang Realitas
Oleh: www.sriti.com

The (Un)Reality Show
Clara Ng



Mendadak kita seakan-akan menjadi salah seorang yang disenter-senter kamera, yang disaksikan jutaan penonton siaran reality show setanah air. Jika mulai hari Senin hingga Minggu, kita asyik-asyik saja menyaksikan acara bualan cinta, sampai Penghuni Terakhir, seakan jadi kemewahan mencari alternatif siaran yang tanpa mengandalkan hyperealita, saya jadi ingin kembali ke abad silam ketika Unyil menjadi salah satu yang paling ditunggu di hari minggu pagi

Ketika membaca The Haunted karya terbaru Chuck Palahniuk (Doubleday, 2005), lalu kini ada dalam belantara pustaka kita, Clara Ng yang rilis duluan tiga bulan sebelum Palahniuk, seakan-akan menambah resistensi dunia nyata yang dipertontonkan itu dalam bentuk buku fiksi. Jika Palahniuk mengejek habis masyarakat Amerika dengan cara yang sangat radikal, Clara Ng mengambil jarak terdekat untuk mengambil arus yang lebih menghanyutkan. Palahniuk dan Clara bermain-main dengan alam bernama ‘nalar’ yang berwacana dalam konflik para tokohnya. Kedua punya kemampuan yang mengecoh pembaca. Keduanya membangkitkan semangat kritik yang relevan untuk euforia reality show. Jika Palahniuk mengambil isu kebangkrutan moral dan identitas masyarakat Amerika saat ini, maka Clara mengambil sejumlah ide seputar kegentingan problema pada individual, orientasi seksual, orientasi cerita yang menghibur, serta pemandangan bagi corak masyarakat kita.

Dimulai dari judulnya The (Un)Reality Show (Gramedia Pustaka Utama, 2005) sudah membawa kita pada pertanyaan tentang realitas. Apa yang dimaksud dengan realitas? Apakah sesuatu yang berlangsung di depan mata kita otomatis disebut realitas? Alkisah delapan orang dikumpulkan di satu rumah untuk tinggal bersama selama beberapa minggu dan pemenangnya akan mendapatkan hadiah satu miliar---mirip seperti acara yang sekarang ini diputar di salah satu stasiun TV swasta. Meskipun kalau sudah dibaca, akan tampak perbedaan yang amat sangat besar antara The (Un)Reality Show dan acara tersebut.

Delapan orang ini terdiri atas empat laki-laki dan empat perempuan; Primus, lelaki yang amat sangat tampan dan memiliki penggemar perempuan yang selalu memandangnya dengan penuh hasrat; Richard, lelaki pengangguran mantan napi yang dihukum penjara karena membunuh pemerkosa istrinya; Jodi, lelaki pecundang yang pernah jadi pencandu narkoba; Feivel, lelaki gay yang terpaksa ikut acara ini karena membutuhkan uang untuk membayar utang. Para perempuannya adalah: Wendy, gadis tomboi yang mandiri dan serbabisa, bisa membetulkan apa saja mulai dari pipa bocor hingga memasak. Tara; mahasiswi penggemar kartu tarot yang dengan senang hati meramal untuk semua orang; Azuza, gadis berusia 10 tahun yang unik karena memiliki satu ayah dan sepasang ibu lesbian dan tidak sungkan bicara tentang seks; Meiying, ibu rumahtangga yang nyambi bekerja sebagai penjual realestat. Dan seterusnya…Dalam acara reality show ini mereka harus melewati tantangan demi tantangan setiap minggu hingga minggu ketujuh. Tantangan pertama dimulai dengan pemilihan teman sekamar di mana lelaki harus sekamar dengan perempuan. Dan seterusnya dan sebagainya. Banyak sekali sejumlah fragmen yang terjadi. kekacauan malam pertama pun dibuat kocak dan heboh, hingga pembaca akan mengerti maksud tulisan “Trampled Male Organ” di cover depan novel ini. “Rumah gila”, demikian sebutan yang diberikan oleh penghuni rumah ini memang benar-benar gila, apalagi ketika pada minggu ketiga mereka diharuskan memelihara binatang. Dan seterusnya.

The (Un)Reality Show ditulis dengan tujuan menjadi dark comedy. Dan di bagian akhir novel, Clara Ng bertanya pada judul babnya “A Question of Reality". Apa yang dimaksud realitas? Apakah sesuatu itu realitas kalau sudah tercetak dalam tulisan atau tampil di layar kaca? Apa yang terjadi kalau semua yang kita lihat hingga bab tersebut hanyalah ilusi? Bahwa semua yang kita baca sepanjang novel ini ternyata hanyalah sesuatu yang terjadi dalam pikiran seseorang yang menderita DID (kepribadian terpecah)? Menyambut kedatangan reality show paling akbar di dunia, dari jaringan televisi ABC yang berbiaya terbesar di abad ini, kehidupan di luar lapangan tenis bagi kakak beradik Serena-Venus Williams yang berdesar-desar di bulan Juni mendatang, novel The (Un)Reality khususnya, serta The Haunted-nya Palahniuk rilis duluan. Banyak yang menyangsikan karyanya akan sehebat novel Fight Club atau Survivor yang menggetarkan itu. Nyatanya 100.000 eksemplar ludes dalam penjualan online dari jati diri saluran maya-nya hanya dalam satu pekan saja.

Untuk Clara Ng, rasanya dia masih bisa diandalkan daya jualnya. Di luar riak massa tema bukunya yang anget di mana-mana, selain gaya penulis Clara yang sudah bisa ditoleh sejak serial Indiana, Clara bisa jadi simbol penulis yang bisa melar ke sudut pembaca perempuan dan laki-laki. Istilahnya metro-pop, untuk membilang bacaan bukan Chicklit, yang bercitra pada penulisan tema urban yang berkelamin uniseks. Cara dia bercerita sangat tangkas, dan masih akan sanggup bertutur ratusan ribu halaman lagi tanpa bertemu tembok kuldesak. Kami mengamati dia akan menjadi story teller Indonesia berbakat dalam beberapa puluh tahun ke depan.

Jika Anda sangat menyukai bacaan yang ngepop, menghibur, enak dibaca, buku yang bisa menjadi teman yang baik, membuat penasaran, tapi masih punya eksplorasi yang kuat, silahkan memboyongnya dari toko buku. Ada seorang teman yang mengatakan buku ini bisa jadi penyembuh ‘luka’ sebelum dan sesudah membaca buku megah Veronika Memutuskan Mati, dari mahakarya Paulo Coelho (tebitan KPG, 2005). Artinya; jika Anda pembaca Veronika, Anda butuh membaca The (Un)Reality Show dua kali… ***

Oleh:Chusnato

=
trus ada lagi yang aku suka, fight club. secara keseluruhan lebih menarik filmnya, soalnya bukunya gritty dan very rough. gaya berceritanya nga linear gitu. tapi habis mbaca rasanya high.

=

Tidur untuk beberapa orang memang bukan hal gampang. Contohnya, si “aku” dalam novel Fight Club, tiga minggu dia tidak tidur, sampai akhirnya terpaksa mendatangi seorang dokter dan berharap bisa mendapatkan Amytal Sodium 200mg, Tuinal, dan Seconal. Tapi dokter itu menganjurkan cara alami dengan mengunyah akar valerian dan berolah raga lebih banyak. Itu hanya sekedar cerita fiksi saja, apakah benar ada orang yang menderita insomnia akut hingga tak tidur tiga minggu, saya tak tahu.
=
Masih inget dengan Dory, ikan yang selalu lupa di film Finding Nemo? Dory mempunyai short term memory loss yang membuatnya selalu lupa dengan apa yang barusan ia katakan dan lakukan. Bagi penonton, tingkah Dory yang selalu lupa tentunya menambah kelucuan film. Tapi setelah menonton MEMENTO, gue bisa melihat sisi gelap dari penyakit tersebut.

Menulis synopsis film Memento ga mudah karena plot filmnya yang ga forward tapi backward. Tapi dicoba aja deh.

Leonard Shelby (Guy Pearce) seorang penyelidik asuransi kehilangan istrinya (Jorja Fox) ketika suatu perampokan dan pembunuhan terjadi dirumahnya. Akibatnya, Leonard menderita anterograde amnesia yang membuatnya tidak bisa membuat memori baru. Leonard berupaya membalas dendam dengan mencari pelaku pembunuh istrinya. Tapi dengan penyakit barunya, ia tak mampu mengingat semua informasi tentang pembunuh tersebut. Oleh karena itu ia mengatasinya dengan mengambil foto-foto dengan Polaroid, membuat catatan dan tato di tubuhnya tentang informasi berkisar pembunuh istrinya tersebut.

Film ini bagus dengan jalan cerita yang ga biasa. Yang ga hobi nonton film aneh dan butuh film yang jelas, tentunya film ini bukan untuk kamu. Dijamin 15 menit pertama pasti langsung kebingungan. Tapi itulah keunggulan film psikologi thriller ini. Mereka bermain-main dengan pikiranmu sendiri. Tokoh yang awalnya baik ternyata punya maksud tersembunyi. Kita juga ga bisa menyalahkan Leonard yang mau aja dimanfaatkan karena kondisi penyakitnya.

Very recommended! Gue dah nyari film ini dimanapun dan akhirnya dapat. Film ini mengingatkan pada Fight Club (Brad Pitt, Edward Norton) tapi lebih gelap juga tragis.
=


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help